KEGIATAN / EVENT
Thursday November 23, 2017
Register
  • Patient Complaine Handling
  • Doctor and Patient
  • Doctor Writing Notes
  • Laboratory
  • Operasi

Seminar II Harapan Stakeholders terhadap Mutu Layanan RSD Ditinjau dari Aspek Ekuitas dan Profitabilitas

Seminar II

 

Harapan Stakeholders terhadap Mutu Layanan RSD Ditinjau dari Aspek Ekuitas dan Profitabilitas

 

 seminar-2-1

 

Read more: Seminar II Harapan Stakeholders terhadap Mutu Layanan RSD Ditinjau dari Aspek Ekuitas dan...

Catatan Kuliah Umum Sharing tentang progress dan problem di Kota Bandung

Catatan Kuliah Umum

 

Sharing tentang progress dan problem di Kota Bandung

 

Pemateri: Ridwan Kamil (Wali Kota Bandung)

Moderator: dr. Heru Aryadi, MPH

 

 ridwan-kamil

 

Background

  • dosen arsitek di ITB, terbiasa berpikir linear dan ilmiah
  • arsitek dengan karyawan 70 orang, dengan proyek di Tiongkok, Timteng dll (sense of enterpreneurship, dll)
  • social activist (berkebun urban farming)

 

Dengan latar belakang tersebut, Ridwan Kamil merasa cukup menguasai teori perubahan dan mencoba menerapkannya dalam birokrasi Kota Bandung. Setelah 2,5 tahun menjadi walikota, ternyata ada dua hal terkait dengan birokrasi: membutuhkan model dan membutuhkan sistem.

 

Untuk itu, RK mengubah gaya kepemimpinan birokrat dengan menjadi pejabat yang tidak berjarak. Secara psikologis ini mempengaruhi birokrasi staf. RK bersepeda setiap hari secara konsisten. Banyak manfaat yang dirasakan dari aktivitas ini sebagai walikota, antara lain bisa menemukan/melihat langsung jalan yang rusak, gelandangan, preman dan seterusnya. Dengan bersepeda, RK bisa berdemokrasi dengan rakyat. RK mengaku banyak ide lahir dari ketenangan bersepeda. Ia ingin mengubah cara pandang dan cara hidup masyarakat Kota Bandung secara evolusional kearah lebih baik. Senin tidak makan nasi, selasa tanpa rokok, Rabu berbahasa Sunda, Kamis berbahasa Inggris dan Jumat bersepeda. RK secara aktiv menggunakan media social untuk berkomunikasi dengan warga. Cara komunikasi yang digunakan adalah dengan pesan serius namun bahasa yang tidak pernah serius. Menurutnya Bandung harus memiliki daya kompetisi global yang tangguh, namun akar budayanya tetap kuat. Sabtu adalah hari festival. Pejabat menggelar kegiatan nonton bersama warga yang diselipi pesan propaganda. Ia mengembangkan happiness project, sebab advanced society adalah happy society. Bandung termasuk kota yang penduduknya paling bahagia se-Indonesia.

 

Camat dan lurah harus dekat juga dengan masyarakat. Awal Mei launching program KTP diantar ke rumah. Akte kelahiran diberikan saat pasien masih di RS. Semua pejabat di lingkungan Pemkot Bandung harus punya akun twitter yang setiap hari digunakan untuk menginformasikan kegiatan masing-masing. RK minta semua pejabat sampai di tingkat kelurahan untuk melakukan Sholat Jumat di mesjid yang berbeda setiap minggunya dan setelahnya mendengarkan curhat warga. Gesture: seminggu sekali makan malam sama keluarga miskin, untuk semakin mendekatkan pejabat dengan warga.

 

Indonesia masih berbelanja dengan cara konvensional: membangun secara bertahap sesuai dengan kemampuan modal yang dimiliki. Di negara maju strategi ini telah ditinggalkan. Mereka menerapkan PPP (public private partnership) dengan meningkatkan proporsi pembiayaan oleh swasta. Strategi ini akan diadopsi di Kota Bandung. Pemda akan mencicil pembayarannya ke investor. Dengan cara ini, diharapkan perkembangan pembangunan bisa lebih cepat. 

 

Kota Bandung memiliki 151 keluharan namun hanya ada 75 puskesmas. Dengan mekanisme PPP, dalam 2 tahun RK optimis puskesmas akan merata diseluruh kecamatan. Tahun ini mekanisme finansial tersebut akan “di-gol-kan” agar pemda bisa berinovasi. 

 

Hal yang patut disyukuri adalah approval rate mencapai 80%. Artinya, masyarakat menerimaprogram-program yang dilakukan oleh pemerintah. Hal ini karena masyarakat merasa mudahnya berkomunikasi dengan walikota sehingga banyak hal sepele juga dilaporkan ke walikota. 

 

Konsep smart city sedang dalam pengembangan. Kota Bandung telah mengembangkan sekitar 300 aplikasi. Misalnya, warga bisa mengeksplorasi lurah/camat secara diam-diam. Jika ada warga yang tidak puas dengan kinerja lurah, misalnya terhadap waktu tunggu pelayanan di kelurahan, warga bisa klik dan lapor ke walikota. Aplikasi lain adalah e-budgeting. Juga ada aplikasi penerimaan siswa baru. Dengan ini, masyarakat bisa melihat ketersediaan kursi di setiap sekolah. Sebelum aplikasi ini digunakan, setiap tahun Rp 20 milyar dikorupsi dengan cara penjualan kursi kepada siswa baru. Aplikasi perijinan online meminimalisir pertemuan antara petugas dengan pemohon perijinan sehingga pungli juga bisa dikurangi. Dengan berbagai inovasi ini, Bandung mengalami perubahan kinerja birokrasi dari yang tadinya hanya mendapat nilai 50 (C) di tahun 2013, menjadi nilai 80 (A) di tahun 2015.

 

Di bidang kesehatan, inovasi dilakukan dengan menerapkan antrian online di RSUD. Masyarakat bisa mengambil nomor antrian lewat SMS. Kirim SMS, pilih klinik dan dokternya, lalu akan dijawab oleh operator untuk datang pukul berapa sesuai dengan nomor antrian. Saat ini ada 8 Puskesmas yang buka 24 jam (karena tidak semua dokter bisa lembur). Pelayanan Ambulance gratis, juga akan ada visiting doctors namun sedang dikaji kebutuhan biayanya. 

 

Setiap perubahan pasti mendatangkan pro dan kontra. Untuk masyarakat yang kontra, RK memberi ruang bagi kritikus untuk menyalurkan kritiknya in a positive way, kalau bisa dengan solusi. RK mengaku satu tahun pertama “babak belur” membangun sistem komunikasi spt ini. 

 

Nilai kepemimpinan yang harus dimiliki termasuk oleh direktur RSD agar dapat membawa perubahan menurut RK adalah: 

  1. visioner (bukan hanya memikirkan tahun depan tapi 5-10 tahun). Direktur bukan hanya mengurusi yang rutin tapi harus berpikir inovasi
  2. menggunakan filosofi Wahidin Sudirohusodo: ing madya mangunkarsa.Yang dibutuhkan saat ini adalah pemimpin berada di tengah pasukan, harus memberi contoh, bukan mengambil alih tupoksi
  3. berpikir dari sisi konsumen

 

Toilet umum di Bandung, termasuk yang di instansi pelayanan publik berstandar hotel bintang tiga.

 

 

(Catatan dan foto: Sie HUMAS MUNAS ARSADA VII)

 

 

Seminar IV Kiat Memenuhi dan Meningkatkan Mutu Pelayanan di RSD

Seminar IV

 

Kiat Memenuhi dan Meningkatkan Mutu Pelayanan di RSD

 

seminar-4-2

Read more: Seminar IV Kiat Memenuhi dan Meningkatkan Mutu Pelayanan di RSD

Seminar III Dilema Otonomi Daerah dalam Pemenuhan Mutu Pelayanan Kesehatan ditinjau dari Aspek Pemenuhan SDM dan Pengembangan Pelayanan

Seminar III

 

Dilema Otonomi Daerah dalam Pemenuhan Mutu Pelayanan Kesehatan ditinjau dari Aspek Pemenuhan SDM dan Pengembangan Pelayanan

 seminar-4-1

Read more: Seminar III Dilema Otonomi Daerah dalam Pemenuhan Mutu Pelayanan Kesehatan ditinjau dari Aspek...

Media Partner Website Arsada:

KEMENKES KEMENDAGRI PERSI BPJS KARS ALKES    
Follow Us Contact Us